Jeddah, Pintu Gerbang Dua Tanah Haram

0
585
Penampakan Kota Jeddah di malam hari. (foto:ist)
Penampakan Kota Jeddah di malam hari. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Jeddah merupakan salah satu daerah yang masih masuk ke dalam provinsi Mekkah yang letaknya berjarak 75 km di sebelah barat kota suci Mekkah. Kota Jeddah memang akan selalu disambangi jamaah haji maupun umrah, bahkan pengunjung lainnya termasuk non muslim, lantaran wilayah ini berada di luar batas kota suci Mekkah. Dan Jeddah menjadi pintu gerbang dua Tanah Haram.

Jeddah berbatasan langsung dengan Sudan, benua Afrika yang hanya dibatasi oleh Laut Merah. Tak heran bila pelabuhan internasional Jeddah menjadi pintu gerbang bagi jamaah haji asal benua Afrika. Kota ini sangat berbeda dengan dua kota Suci, Mekkah dan Madinah. Namun demikian, Jeddah tetap memberikan keramaian serta kepadatan tersendiri. Jeddah kerap menjadi kota persinggahan para jamaah haji maupun umrah, termasuk kota wisata di Arab Saudi bagi jamaah haji dan umrah maupun wisatawan umum lainnya.

Setidaknya di kota ini, selain menjadi kota transit, sejumlah biro travel umrah selalu mengadakan perjalanan khusus ke Jeddah sebagai salah satu tujuan wisata sejarah dan wisata belanja usai menunaikan ibadah umrah maupun haji. Beberapa tempat yang biasa dikunjungi adalah Laut Merah, Masjid Qishosh, dan pusat perbelanjaan besar Al-Balad Corniche.

Jeddah berasal dari bahasa Arab “Jaddah” atau “Juddah” yang berarti nenek. Nama ini diambil lantaran adanya suatu klaim bahwa nenek moyang manusia, Hawa, dikuburkan di daerah ini. Karena itu, kota Jeddah ini menjadi salah satu tempat ziarah yang bisa dikunjungi oleh setiap wisatawan atau jamaah haji dan umrah.

Menurut Ikhwan dan Abdul Halim dalam bukunya Ensiklopedi Haji dan Umrah menyebutkan, kota berpenduduk 1,5 juta jiwa ini memiliki dua iklim cuaca, yaitu musim panas dan musim dingin. Musim panas terjadi pada bulan Juni sampai dengan bulan September dengan suhu 35-42 Celcius dan musim dingin terjadi pada bulan November sampai dengan Februari dengan suhu 10-25 Celcius.

Sejarah mencatat, daerah Jeddah –yang memiliki luas 3500 kilometer persegi ini— mulanya digunakan oleh suku Qudha’ah untuk beristirahat usai berburu ikan. Lambat laun akhirnya mereka jadikan sebagai perkampungan mereka dan selanjutnya mengalami perkembangan yang cukup pesat. Seperti dalam kitab Dairah Al-Ma’araif Al-Islamiyah, Ahmad Al-Santanawy menyebutkan bahwa sejak tahun 648 M kota ini menjadi kota pelabuhan bagi Mekkah dan sekitarnya di bawah pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Sebelum pusat kekuasaan Islam pindah ke Damaskus dan Baghdad, keberadaan Jeddah menjadi sangat penting bagi kekuasaan Islam saat itu. Saking pentingnya, seorang penulis Persia, Nasir Khasrow yang pernah mengunjungi kota di tahun 1050, disebut sebagai kota yang kuat, yang dikelilingi oleh benteng-benteng yang kokoh.

Pada abad ke-15, sempat menjadi incaran Vasco da Gama untuk dijadikan daerah koloni dan pusat kekuatan. Kala itu, Jeddah masih berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk dari Mesir. Bertindak sebagai gubernurnya adalah Husein Al-Kurdi. Husein adalah sosok yang gigih menentang penjajahan Portugis.

Tahun 1517, Jeddah dikuasai Turki, Ketika Terusan Suez dibuka pada 1869, Jeddah semakin penting peranannya sebagai pelabuhan utama yang harus dilalui oleh kapal-kapal dagang dari berbagai negara. Namun setelah Turki menyerah kepada Inggris (1910-1925), kemudian kota ini menjadi bagian dari kerajaan Hijaz. Dan Jeddah pun akhirnya berada di bawah kekuasaan Abdul Aziz Ibnu Saud dan masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Arab Saudi.

Usai berkobarnya perang dunia kedua, kota Jeddah mulai berbenah menjadi sebuah kota modern. Sejak saat itu, Jeddah yang dikenal sebagai wilayah gurun pasir yang gersang menjelma menjadi kota yang indah dan sejuk. Lantaran kecantikan dan keindahannya, Jeddah ini pun mendapat julukan sebagai kota Sang Pengantin Putri Merah. Tidak hanya menjadi kota pelabuhan dan perdagangan, kota terbesar kedua setelah Ryadh ini pun menjadi pintu gerbang internasional untuk masuk ke Arab Saudi.

Kini, selain menjadi kota bisnis, Jeddah diperuntukkan sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan kota diplomatik bagi pemerintahan Kerajaan Arab Saudi. Di kota ini terdapat istana raja dan kantor Departemen Luar Negeri Arab Saudi serta kantor perwakilan negara-negara asing dan badan-badan internasional lainnya seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Kaitannya dalam rangkaian ibadah haji maupun umrah, kota Jeddah berfungsi sebagai salah satu Miqat Makani dalam pelaksanaan ihram bagi ibadah haji. Jamaah haji Indonesia yang memasuki Kota Mekkah dengan menggunakan fasilitas pesawat terbang menggunakan Kota Jeddah sebagai tempat memulai ihram. Keputusan ini ditetapkan oleh pihak pemerintah Indonesia sejak tahun 1980 berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Setidaknya, dalam setahun kota ini disinggahi lebih dari dua juta jamaah haji yang akan ke Tanah Suci. Dan sejak 1981, pemerintah Arab Saudi meresmikan penggunaan Bandara King Abdul Aziz yang empat kilometer dari pusat kota. Dan di tahun yang sama pula, MUI mengeluarkan fatwa tentang sahnya Bandara King Abdul Aziz sebagai Miqat Makani bagi jamaah haji Indonesia.

LEAVE A REPLY