Bupati Purwakarta Dikado Harmony Award oleh Kemenag

0
488
Dedi Mulyadhi saat menerima Anugerah Kerukunan Umat Beragama (Harmony Award) 2016 dari Kementerian Agama RI (foto: dar/hun)
Dedi Mulyadhi saat menerima Anugerah Kerukunan Umat Beragama (Harmony Award) 2016 dari Kementerian Agama RI (foto: dar/hun)

HAJIUMRAHNEWS – Berhasil membawa Purwakarta menjadi kota yang ramah dan penuh toleransi, Dedi Mulyadhi diganjar Harmony Award oleh Kementerian Agama.

Pria yang akrab disapa Kang Dedi ini mengaku tidak tahu perihal standar yang ditetapkan oleh pihak Kemenag sehingga Kota Purwakarta mendapatkan penghargaan tersebut. Namun ia merasa sangat senang karena telah mendapatkan apresiasi dari Kementerian Agama atas upayanya menjaga harmonisasi kerukunan umat di Purwakarta.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Agama yang memberikan apresiasi kepada Kami yang bekerja demi kerukunan, dan demi kebebasan dalam melaksanakan kaidah-kaidah Pancasila, tentang kebebasan menuntut agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan,” tutur Dedi sesaat setelah diwawancara oleh Hajiumrahnews.com usai mendapatkan anugerah Harmony Award.

Selain pemimpin Kota Purwakarta, masih ada Sembilan kepala daerah yang juga mendapatkan penghargaan tersebut. Para penerima anugerah Kerukunan Umat Beragama atau Harmony Award ini secara langsung menerima tropi dari Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Syaifuddin di hadapan ratusan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama di Hotel Mercure, Ancol, Ahad (26/2).

Ia menjelaskan bahwa menjaga kerukunan umat sangatlah penting demi memelihara persatuan umat. Oleh karenanya berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan maupun keagamaan ia gulirkan demi menjaga sinergitas kerukunan antar umat beragama di Kota Sate Maranggi ini.

“Di kabupaten Purwakarta kebebasan melakukan ekspresi beragama secara ritual dijamin, bahkan mendapat pendidikan. Misalnya sebuah sekolah yang pemeluk agama Hindunya hanya ada dua, Kita siapkan satu guru yang digaji oleh pemerintah daerah, atau pemeluk agama Katoliknya hanya lima, Kita siapkan gurunya, dan Kita siapkan ruang ibadahnya di sekolah. Tetapi juga yang mayoritas kita sediakan juga dan gurunya lebih banyak lagi, misalnya kalau guru kitabnya ada 420, guru-guru yang lainnya ada 50,” tambah Dedi.

“Itu adalah bagian dari rasa keadilan,” tutupnya. (Zaq)

 

LEAVE A REPLY