Masjidil Haram Dari Masa ke Masa

0
788
Masjidil Haram dari masa ke masa. (foto:ist)
Masjidil Haram dari masa ke masa. (foto:ist)

Masjidil Haram adalah sebuah masjid di kota Mekkah yang dipandang sebagai tempat suci bagi umat Islam yang menjadi tujuan utama dalam ibadah haji. Masjid yang mengelilingi Ka’bah –yang menjadi arah kiblat sholat bagi umat Islam ini—merupakan masjid terbesar di dunia.

Keberadaan Masjidil Haram di muka bumi tidak lain sebagai perwujudan rumah di surga bernama Baitul Ma’mur. Sebuah bangunan yang dibangun dan sekaligus sebagai tempat ibadah para malaikat di bumi. Setelah melewati dari waktu ke waktu, Masjidil Haram rusak akibat badai. Kemudian dibangun kembali oleh Nabiyullah Ibrahim bersama putranya Ismail atas perintah Allah Subahanu Wata’ala.

Ketika peradaban Islam masuk ke kota Mekkah, terlebih setelah hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) Mekkah ke Madinah dan meraih kemenangan kembali atas Mekkah. Maka sejak saat itu pula Ka’bah dan bangunan di sekitarnya mulai dikendalikan kaum muslim. Kala itu, Rasulullah SAW beserta Ali bin Abu Thalib Radhiallahu Anhu (RA) menghancurkan semua berhala yang ada di dalam dan di sekitar Ka’bah.

Menurut catatan sejarah, pada mulanya, keberadaan Ka’bah tidak memiliki tembok yang mengelilinginya. Hanya bangunan rumah penduduk Mekkah yang menjadi pembatasnya. Di sela-sela rumah itulah terdapat lorong-lorong menuju Ka’bah yang dinamai sesuai dengan kabilah yang biasa melaluinya. Diperkirakan luas Masjidil Haram dengan rumah-rumah penduduk sebagai pembatasnya kurang lebih 1490–2000 meter persegi.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan umat Islam dan meningkatnya volume kaum muslim yang menunaikan ibadah haji dan umrah membuat mathaf (tempat thawaf) diperluas. Adalah Umar bin Khattab, Khalifah yang pertama kali melakukan perluasan area Masjidil Haram pada tahun 17 Hijriyah atau bertepatan dengan 638 Masehi.

Berdasarkan keterangan Yaqut al Hamawi dalam “Mu’jam al Buldan” 5/146, disebutkan, orang yang pertama kali membangun dinding yang mengelilingi Ka’bah adalah Umar bin Khattab RA. Pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA belum ada dinding yang mengelilingi Ka’bah. Karena itu, Umar pun membeli rumah-rumah di sekitar Masjidil Haram lalu menghacurkannya. Memang, kala itu sebagian warga Mekkah menolak kebijakan Khalifah Umar RA, tapi ia tetap menghancurkan rumah-rumah yang ada di sekitar halaman Ka’bah dengan tetap menyiapkan ganti rugi berupa lahan yang kelak bisa dimanfaatkan.

Kebijakan itu diambil oleh Umar lantaran banyak rumah-rumah warga sekitar yang terus mendekati Ka’bah, maka Umar berkata: “Sesungguhnya Ka’bah ini adalah Baitullah, dan setiap rumah harus memiliki halaman, dan bangunan kalian semua telah memasuki halaman Ka’bah, bukannya halaman Ka’bah yang memasuki rumah kalian”.

Lalu Umar pun memasukkan area tanahnya ke Masjidil Haram, mengubininya dengan hamparan kerikil. Umar juga membangun tembok yang mengelilingi masjid setinggi kurang satu depa (6 kaki), dan membuatkan beberapa pintu. Untuk penerangannya, Umar pun menempatkan lampu minyak di beberapa lokasi pada dindingnya. Diperkirakan luas Masjidil Haram menjadi 840 meter persegi.

Kemudian pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA di tahun 26H/646M, perluasan pun kembali dilakukan. Meski harus membeli bangunan rumah-rumah di sekitar Masjidil Haram dengan  harga cukup mahal.  Selain memperluas bangunan, Utsman juga memberi atap masjid. Kala itu, diperkirakan luas Masjidil Haram bertambah menjadi 2.040 meter persegi.

Pemugaran kembali dilakukan oleh Abdullah bin Zubair RA pada tahun 65H/684M, hingga mencapai 4.050 meter persegi dengan sebagian diantaranya telah diberi atap. Sebelumnya, Abdullah bin Zubair hanya memperindah bangunannya saja dengan memberinya tiang berhias batu marmer, begitu pula pintu masuk masjid.

Tahun 91H/709 M, penguasa Walid bin Abdul Malik, memerintahkan untuk memperluas Masjidil Haram. Selain menggunakan bangunan yang kokoh, juga mendatangkan pilar-pilar marmer dari Mesir dan Syam. Dimana pada ujung tiang itu dilapisi lempengan emas. Sementara pada bagian atapnya menggunakan kayu sajj (semacam kayu jati) yang dihiasi. Dengan perluasan ini, bagi timur Masjidil Haram bertambah sekitar 2.300m2.

Pada masa kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, perombakan hanya menambahkan tinggi tinggi dinding masjid. Termasuk menambahkan beberapa aksesori pada Ka’bah dan merubah pancuran serta atapnya. Dan di tahun 137H/754M, Khalifah Abu Ja’far al Nilanshur kembali memugar Masjidil Haram dan memperluasnya hingga menjadi 4.700 meter persegi serta menghiasinya dengan emas dan mosaic. Dalam kesempatan itu pula, Abdul Malik bin Marwan menutup Hijir Ismail dengan marmer.

Tahun 160H/776M, Khalifah al-Mahdi kembali melakukan perluasan Masjidil Haram di bagian timur, barat dan utara hingga mencapai 7.950 meter persegi. Sementara pada sisi selatan tidak mengalami perluasan lantaran adanya saluran untuk air bah Wadi Ibrahim. Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 164H/780 M, ia memerintahkan untuk memindahkan saluran air bah Wadi Ibrahim. Perombakan yang diperkirakan seluas 2.360 meter persegi di bagian selatan itu membentuk Masjidil Haram menjadi segi empat.

Pada tahun 281H/894M, Khalifah al-Mu’tadhid Billah al-Abbas memasukkan Daar Nadwah ke dalam Masjidil Haram. Rumah yang cukup luas yang ada di sisi utara –yang biasa digunakan untuk peristirahatan pada khalifah dan gubernur itu— menambah luas Masjidil Haram sekitar 1.250 meter persegi. Bangunan ini dilengkapi menara dan pilar-pilar, kubah-kubah dan koridor-koridor beratapkan kayu sajj.

Lalu di tahun 306H/918M, Khalifah al-Muqtadir Billah al-Abbas memerintahkan agar menambah pintu Ibrahim di arah barat masjid. Sebelumnya, area ini merupakan halaman yang luas diantara dua rumah Siti Zubaidah yang luasnya diperkirakan 850 meter persegi. Hingga pada akhirnya pada tahun 979H/1571M, Sulthan Salim al-Utsmani merenovasi seluruh bangunan Masjidil Haram, namun tidak menambah luas bangunan. Bangunan ini tetap ada hingga sekarang yang dikenal dengan bangunan Ottoman.

Barulah pada tahun 1375H/1956M, perombakan Masjidil Haram oleh pemerintah Kerajaan Saudi yang pertama kalinya. Perluasan dilakukan di semua sisi dengan menambahkan bangunan yang indah dan terdiri dari tiga lantai. Dalam kesempatan itu untuk pertama kalinya dibangun lintasan sa’i yang masuk dalam area Masjidil Haram dengan menggusur pasar. Dengan demikian, luasnya menjadi 193 ribu meter persegi dengan tambahan seluas 153 ribu meter persegi yang mampu menampung sekitar 400 ribu jamaah shalat. Dimana sebelumnya, hanya menampung 50 ribu.

Tahun tahun 1409H/1989 M, Raja Fahd bin Abdul Aziz selaku Khadimul Haramain (penjaga dua masjid suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi), memerintahkan untuk memperluas Masjidil Haram di sisi barat. Mulai dari pintu Umrah sampai ke pintu Raja Abdul Aziz seluas 76 ribu meter persegi yang terbagi menjadi lantai dasar, basement dan lantai satu serta atap. Perluasan ini mampu menampung sekitar 152 ribu jamaah.

Lalu di atas kedua sisi pintu utama (pintu Raja Fahd) ditambahkan dua menara, sebagaimana didirikan tiga kubah baru yang berdampingan di atas loteng bangunan baru dilengkapi dengan pendingin udara. Renovasi juga meliputi pembangunan halaman sisi luar masjid dengan menggunakan lantai marmer putih, seperti halaman pintu Raja Fahd, pintu Raja Abdul Aziz, halaman Syamiah dan halaman yang terletak di timur tempat sa’i. Halaman seluas 85 ribu meter persegi ini bisa menampung 190 ribu jamaah shalat. Dengan demikian luas secara keseluruhan Masjidil Haram setelah dirombak mencapai 356 ribu meter persegi yang dapat menampung lebih dari satu juta jamaah.

Pada tahun 1428H/2008M, Raja Abdullah bin Abdul Aziz, memugar bangunan lintasan sa’i dan memperluasnya ke arah timur 20 meter. Dengan tambahan lantai tiga, maka lebarnya menjadi 40 meter, sehingga luasnya secara keseluruhan menjadi 72 ribu meter persegi, dari sebelumnya hanya 29.400 meter persegi. Selain itu Raja Abdullah juga melengkapinya dengan empat eskalator di arah Marwa yang digunakan untuk mengkosongkan tempat sa’i dari jamaah. Sementara di lantai satu dan dua dibuat lintasan sai khusus untuk kaum lansia dan orang-orang yang sakit. Secara keseluruhan area ini luasnya mencapai 125 ribu meter persegi.

Setahun kemudian, Raja Abdullah melakukan perluasan pada halaman di sisi utara dengan membangun terowongan untuk pejalan kaki dan pusat pelayanan seluas 300 ribu meter persegi. Dan sejak pada tahun 1431H/2011M, Raja Abdullah kembali melakukan peletakan batu pertama penambahan areal Masjidil Haram seluas 400 ribu meter persegi. Dengan penambahan ini, daya tampungnya bertambah menjadi 1,2 juta orang. (dar)

LEAVE A REPLY