Imam Malik bin Anas, Orang Pertama Yang Membukukan Hadits

0
445
Tokoh Islam. (foto:ist)
Tokoh Islam. (foto:ist)

Kota Madinah memang gudangnya cendikiawan muslim dari berbagai bidang. Salah satunya adalah bidang ilmu hadits. Di kota ini banyak ditemui ulama ahli hadits dan imam besar umat muslim. Diantaranya adalah Imam Malik bin Anas Radhiallahu Anhu (RA). Dialah orang yang pertama membukukan hadist dalam kitabnya Al-Muwatta.

Nama lengkap sosok ulama ahli hadits ini adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Harits bin Ghuyman bin Khutsail bin Amr bin Harits. Putra dari Aliyah bin Syarik al-Azdiyah yang berasal dari Yaman. Lahir di kota Madinah, 79 tahun setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) atau tepatnya tahun 93 H.

Malik kecil tumbuh di lingkungan yang religius, kedua orang tuanya adalah murid dari sahabat-sahabat yang mulia. Nafi’, sang paman adalah seorang periwayat hadist terpercaya yang meriwayatkan hadist dari Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat-sahabat besar lainnya.

Pada mulanya, Imam Malik hanya mengikuti jejak saudaranya yang bernama Nadhar dalam mempelajari hadits-hadits Nabi. Seiring berjalannya waktu, Imam Malik mampu melangkahi saudaranya dalam ilmu hadits. Tak hanya itu, Imam Malik pun menguasai ilmu fiqih dan tafsir. Dalam hal ini, Imam Malik belajar dari banyak guru dan yang terbaik di dalamnya.

Tak lama kemudian, nama Malik bin Anas mulai dikenal sebagai seorang yang paling berilmu di Kota Madinah. Beliau kerap mengisi majelis ilmu di Masjid Nabawi, di tengah-tengah penuntut ilmu yang datang dari penjuru negeri. Salah satu kajian fiqih yang disampaikan Imam Malik adalah penafsiran-penafsiran hadits. Dan pendapat-pendapatnya banyak dipengaruhi oleh aktifitas yang dilakukan penduduk Madinah.

Menurutnya, praktik-praktik yang dilakukan penduduk Madinah di masanya tidak jauh dari praktik masyarakat Madinah di zaman Rasulullah SAW, termasuk dari para leluhur mereka dari kalangan para sahabat Nabi. Sehingga, jika penduduk Madinah melakukan suatu amalan yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah, maka perbuatan tersebut dapat dijadikan sumber rujukan atau sumber hukum. Inilah yang membedakan Madzhab Imam Maliki dibanding tiga madzhab lainnya.

Harus diakui, Imam Malik memiliki wajah tampan dan perawakan yag tinggi besar. Selain berwajah rupawan, Imam Malik juga memiliki kepribadian yang kokoh dan berwibawa. Tak heran bila, orang-orang yang menghadiri majelisnya begitu merasakan wibawa imam besar ini. Sampai-sampai tak ada seorang pun yang berani berbicara saat ia menyampaikan ilmu. Salah satu muridnya, yakni Imam Syafi’i mengatakan, “Ketika melihat Imam Malik bin Anas, saya tidak pernah melihat seoarang lebih berwibawa dibanding dirinya.”

Dalam kesehariannya, Imam Malik juga dikenal sebagai seorang yang sangat perhatian dengan penampilan. Tak heran bila ia selalu tampil rapi, bersih, dan harum dengan parfumnya hingga di akhir usianya. Tahun 179 H/795 M, di usianya yang ke 85 tahun, Imam Malik menghembuskan napas terakhir.  Hingga akhirnya dikebumikan di komplek pemakaman Baqi’. (asri)

 

 

LEAVE A REPLY