Abdul Muthalib dan Sumur Zamzam

0
345
Sumur Zam-zam di masa lalu (foto: ist.)
Sumur Zam-zam di masa lalu (foto: ist.)

Hajiumrahnews – Tak bisa dimungkiri, sebagai keturunan keluarga besar Qushay bin Kilab, Muthalib mempunyai tanggungjawab besar tentang segala bentuk yang berkaitan dengan Kabah. Termasuk soal penyediaan air minum bag ijamaah yang tengah melaksanakan haji. Sebelum menemukan sumur Zam zam, Abdul Muthalib mengambil air dari sumur-sumur di luar Mekkah, yang kemudian di tampungnya di wadah air yang ada di sekitar Kabah.

Kala itu, Mekkah tengah dilanda paceklik, sebagai orang yang diamanahi untuk mengurus Kabah, kondisi ini membuat bingung Abdul Muthalib. Sebab, ribuan jamaah haji akan segera datang ke Mekkah. Abdul Muthalaib pun memikirkan seribu cara untuk mendapatkan air. Termasuk mengumpulkan para kabilah Quraishy untuk memecahkan permasalahan ini secepatnya.

Dalam perbincangan itu, mereka teringat akan kabar sumur yang tak pernah habis sepanjang masa. Sumur itu bernama Zam zam. Sayang, sumur itu dikabarkan telah berabad-abad hilang dan tak ada yang tahu persis letak lokasi sumur itu berada.

Suatu ketika, lewat mimpinya, Abdul Muthalib seolah diarahkan untuk menemukan sumur  Zam zam. Dalam mimpinya berkali-kali itu, Abdul Muthalib diperintahkan untuk menggali sumur Zam zam. Hal ini sebegaimana keterangan dari Ibnu Hisyam yang menyebutkan, “Ketika Abdul Muthalib tidur di Hijir, dia mimpi didatangi seseorang dan disuruh untuk menggali sumur Zamzam. Dan dalam mimpinya Abdul Muthalib mengaku bertemu dengan sesosok orang yang menyuruhnya segera menggali sumur Zam zam.

“Ketika aku sedang tidur di hijir Ismail, aku mendengar suara, “Galilah Thayyibah   (Zam zam)!” “Apa itu Thayyibah?” tanya Abdul dalam mimpinya. “Tetapi kemudian orang itu pergi dan besoknya ketika tidur, aku kembali mendengar suara yang sama,” katanya.

“Galilah Birrah (Zam zam)!” seru sosok itu. “Apa itu Birrah?” tanya Abdul Muthalib. “Tetapi orang itu kembali pergi. Keesokan harinya, ketika aku tidur aku mendengar lagi suara yang sama,” kata Abdul. “Galilah Al-Madhnunah!” kembali seru sosok itu.

“Kemudian orang itu pergi. Besoknya, ketika aku tidur, orang itu dating lagi dan berkata yang sama,” kata Abdul Muthalib. “Galilah Zamzam?” “Apa itu Zamzam?”

“Air yang tidak kering dan tidak meluap, dengannya engkau bisa member minum para jamaah haji. Letaknya di bawah timbunan tahi binatang dan darah. Ada di paruh gagak yang tuli, di sarang semut.”

Demikianlah mimpi itu menunjukkan kepada Abdul Muthalib letak terkuburnya sumur Zam zam. Ada pun maksud dari ‘Di antara kotoran darah’ adalah airnya mengenyangkan dan menyembuhkan penyakit. Sementara kata ‘Sarang semut’ mempunyai banyak makna diantaranya, Zam zam sebagai mata air di Mekkah akan dikerumuni orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah dari setiap penjuru laksana semut mengerumuni sarangnya. (hay)

(dikutip dari buku Sejarah Kabah, kisah rumah suci yang tak lapuk dimakan zaman)

LEAVE A REPLY