Sosok Erdogan yang Ingin Kembalikan Kejayaan Islam di Turki

0
2111
Presiden Tukri Recep Tayyip Erdogan. (foto:ist)
Presiden Tukri Recep Tayyip Erdogan. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS–Kejadian upaya kudeta yang dilakukan faksi militer di Turki yang dilakukan pada Jumat (15/7) kemarin, bukanlah kali pertama terjadi di negeri ini. Jauh sebelumnya, upaya-upaya kudeta mewarnai perjalanan pemerintahan yang berkuasa di Turki. Dan salah satunya terjadi di era Presiden Erdogan.

Terlepas dari aksi kudeta yang dilancarkan faksi militer Turki. Tidak ada salahnya kita mengenal sosok dari Presiden Recep Tayyip Erdogan yang memerintah Turki sejak Agustus 2014 lalu. Berikut adalah profil dari sosok Erdogan yang mengawali karir politik sebagai walikota ini kerap dipandang sebelah mata oleh pihak yang bersebarangan dengan Islam.

Bahkan tak jarang ia dicap sebagai pemimpin yang ‘bodoh’. Meski begitu, ia tak lantas membalas pelabelan tersebut dengan komentar, tapi dengan aksi nyata sebagai seorang pemimpin. Dan kini ia tampil sebagai sosok yang diperhitungkan dalam politik dunia.

Itulah gambaran yang kerap ditabalkan pada sosok Recep Tayyip Erdogan yang sejak Agustus 2014 lalu dilantik sebagai Presiden Turki. Sebelumnya ia tampil sebagai Perdana Menteri Turki selama 11 tahun.

Erdogan terpilih menjadi Presiden Turki ke 12 hasil pemilihan presiden Turki yang digelar pada 10 Agustus 2014. Pria kelahiran Istanbul, 26 Februari 1954 ini tampil sebagai pemenang dengan perolehan suara 52 persen, mengalahkan dua pesaingnya, yakni Ekmeleddin Ihsanoglu dan Selahattin Demirtas.

Setidaknya, seperti ditulis seorang penulis Yordan, Ihsan Al Faqih, 26 Desember lalu yang dilansir media Achahed, disebutkan Erdogan berhasil menaikkan Produk Domestik Nasional Turki di tahun 2013 mencapai US$ 100 miliar. Artinya capaian ini menyamai pendapatan gabungan tiga negara dengan ekonomi terkuat di Timur Tengah; Arab Saudi, Uni Emirat arab, Iran, dan ditambah dengan Yordan, Suriah dan Libanon.

Demikian pula dengan pendapatan perkapita penduduk Turki pada 2013 meningkat menjadi US$ 11.000 dari sebelumnya yang hanya US$ 3500 per tahun. Capaian ini melebihi perkapita penduduk Prancis. Bahkan Erdogan berani menaikkan nilai tukar mata uang Turki hingga 30 kali lipat.

Sejumlah lompatan ekonomi terbesar telah dilakukannya, sehingga Turki yang sebelumnya rangking 111 dunia, kini menjadi peringkat 16 dengan rata-rata peningkatan 10 persen per tahun. Tak heran bila, Erdogan mencanangkan 2023 sebagai tahun pembangunan Negara Turki Modern dengan target menjadi kekuatan politik dan ekonomi nomer satu di dunia.

Turki juga kini memiliki bandara Internasional Istabul sebagai bandara terbesar di Eropa yang menampung 1260 pesawat per harinya. Pun bandara Shabiha yang mampu menampung 630 pesawat setiap hari. Dan Turkish Airlines, selalu meraih gelar maskapai penerbangan terbaik di dunia dalam tiga tahun berturut-turut.

Selama 11 tahun memerintah, Erdogan telah berhasil mendirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, 510 rumah sakit baru dan 169.000 kelas baru yang modern. Tak heran bila rasio siswa per kelas tidak lebih dari 21 orang.

Bahkan ketika krisis ekonomi menimpa Eropa dan Amerika sehingga menaikkan biaya kuliah, Erdogan malah membebaskan seluruh biaya kuliah dan sekolah bagi rakyatnya. Erdogan juga tengah berupaya untuk membiayai 300 ribu ilmuwan yang melakukan penelitian ilmiah untuk menuju tahun 2023.

Di samping itu, Turki dibawah kendali Erdogan telah menaikkan gaji dan upah hingga 300 persen. Pun dengan gaji pegawai baru meningkat, dari 340 lira Turki menjadi 957 lira. Termasuk gaji guru setara dengan gaji dokter. Dan jumlah pencari kerja menurun dari 38 persen menjadi 2 persen.

Pemerintah juga mematok anggaran pendidikan dan kesehatan, lebih besar dibanding anggaran pertahanan. Meski demikian, Turki untuk pertama kalinya memproduksi sendiri Tank baja, pesawat terbang dan pesawat tempur tanpa awak, serta satelit militer modern pertama dan multifungsi. Setidaknya kini telah tersedia, 35 ribu laboratorium IT dan data base modern untuk melatih pemuda-pemuda Turki.

Erdogan berhasil menutupi defisit anggaran sekitar US$ 47 milyar. Sekaligus menambah cadangan devisa negara sebesar US$ 100 miliar. Pada Juli lalu, cicilan terakhir Turki atas hutangnya ke IMF US$ 300 juta. Kini, Turki meminjami IMF sebesar US$ 5 milyar.

Peningkatan lain adalah di sektor perdagangan dalam 10 tahun lalu, ekspor Turki hanya US$ 23 milyar. Tapi kini, meningkat menjadi US$ 153 milyar dan mencapai 190 negara negara tujuan ekspor.

Setidaknya, setiap tiga perangkat elektronik di Eropa, satu diantaranya adalah produksi Turki. Erdogan juga mengawali pengolahan sampah menjadi pembangkit tenaga listrik, yang digunakan oleh sepertiga penduduk Turki. Energi listrik sendiri sudah dinikmati 98 persen penduduk Turki.

Dalam kehidupan keseharian, Erdogan menghidupkan kembali pengajaran Al-Quran dan hadits di sekolah-sekolah, setelah dihilangkan selama hampir 90 tahun oleh pemerintah sekuler. Ia juga menetapkan kebebasan berhijab di kampus-kampus Turki dan di parlemen. Erdogan pun mengembalikan pembelajaran bahasa Ustmaniyah yang berhuruf Arab di sekolah-sekolah.

Di kancah internasional, Presiden Erdogan satu-satunya kepala negara bersama istrinya Emine Erdogan mengunjungi Burma dan bertemu dengan kaum Muslimin Rohingya, Myanmar. Erdogan juga berhasil mendamaikan dua bagian Cyprus yang bertikai. Melakukan pembahasan damai dengan partai Buruh Kurdistan untuk menghentikan pertumpahan darah, dan meminta maaf kepada Armenia, sehingga menyelesaikan permasalahan yang sudah menggantung sejak enam dasawarsa.

Erdogan juga dikenal sebagai pemimpin negara Islam yang membuat lampu di jembatan gantung terbesar di dunia, di pantai laut hitam dengan penerangan yang sangat besar bertuliskan “Bismillahirrahmanirrahim”. Padahal, salah satu negara Arab membuat pohon natal terbesar di dunia dengan menelan dana mencapai US$ 40 juta.

Boleh jadi, Erdogan memang teman Israel, begitu anggapan kaum sekuler Arab. Tapi, Erdogan pernah mengkritik keras kepada Israel, dan memaksa Israel meminta maaf karena kasus kapal Marmara yang ditembak Israel. Dan Erdogan memberi syarat pencabutan embargo Gaza untuk menerima permintaan maaf tersebut. (hayat fakhrurrozi/MHU)

LEAVE A REPLY