Perang Uhud, Pelajaran antara Kesetiaan dan Kecintaan

0
815

jabakuhudPerang Uhud dinilai sebagai merupakan pertempuran yang mempertaruhkan antara kesetiaan kaum muslim terhadap agama dan kecintaan mereka pada harta. Sebab, dalam peristiwa itu, kaum muslim dihadapkan pada pilihan yang membuat ‘perang batin’ sebagai seorang muslim kala itu. Perang Uhud sarat pelajaran berharga bagi umat hingga detik ini dalam menghadapi pilihan hidup.

Betapa tidak, sebelum perang Uhud berkobar, sepertiga (300 orang) dari 1.000 pasukan kaum muslim yang disiapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) kala itu memilih mundur dan membelot di bawah pimpinan Abdullah ibn Abi. Sehingga Rasulullah SAW hanya didukung oleh 700 orang termasuk di dalamnya 50 pasukan berkuda. Sementara, pasukan kafir Quraisy dibawah komando Bani Abdud Daar berjumlah 3.000 tentara ditambah 200 pasukan berkuda. Apalagi medan perang yang sangat sulit dan lawan yang tak imbang secara jumlah.

Perang Uhud meletus akibat rasa dendam kaum kafir Quraisy Mekkah atas kekalahan mereka dalam Perang Badar. Dengan kekuatan 3.000 tentara, kafir Quraisy Mekkah merangsek ke Madinah. Untuk memancing penduduk Madinah, mereka membakar ladang gandum milik umat Islam di Jabal Uhud. Menghadapi penyerbuan itu, Rasulullah SAW memerintahkan pasukan untuk menghadapinya di luar Kota Madinah. Maka dipilihlah Jabal Uhud menghalang kaum kafir masuk ke Madinah dengan menyiagakan sebanyak 50 pasukan pemanah terbaiknya di Jabal Rumat dan tergabung dalam 700 pasukan perang muslim.

Peristiwa yang terjadi pada 15 Syawal 3 H, atau sekitar bulan Maret 625 di bawah pimpinan langsung Rasulullah SAW. Sebenarnya dalam peperangan tersebut, pasukan muslim sudah bisa menghalau dan membuat kocar-kacir pasukan kaum kafir Mekkah. Dengan menempatkan pasukan pemanah di Jabal Rumat dikomandoi oleh Abdullah Ibnu Jabir ini, pasukan muslim dengan mudah mengalahkan pasukan kafir. Namun sayang, kemenangan itu berubah menjadi kekacauan yang mengakibatkan pasukan kaum kewalahan.

Rupanya, para pemanah jitu lupa pesan Rasulullah. Mereka lebih tergoda untuk mengambil barang rampasan perang yang ditinggal lari pasukan kafir di bawah kaki Jabal Rumat. Di tengah mereka sibuk mengambil rampasan perang, pasukan kafir kembali menyerang balik.

Padahal, Rasulullah sebagai panglima perang memerintahkan pasukan pemanah untuk melindungi pasukan kuda dari serangan kaum kafir. “Lindungilah pasukan kuda. Jangan sampai mereka menerobos kita dan tetaplah ditempatmu, kalah atau menang, jangan sampai mereka masuk dari belakangmu.” Demikian instruksi Rasulullah SAW yang tak diindahkan pasukan pemanah.

Khalid bin Walid (kala itu belum masuk Islam) yang memimpin pasukan berkuda memanfaatkan kecerobohan pasukan muslim dengan menyerang balik. Akibat serangan balik tersebut, korban di pihak umat Islam berjatuhan. Sebanyak 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Termasuk paman Nabi Muhammad SAW, sayyidina Hamzah. Bahkan, Rasulullah pun mengalami luka parah, rahangnya patah. Sementara di kubu pasukan kafir Quraisy sebanyak 22 orang.

Sayyidina Hamzah yang membawa panji Islam dalam perang itu dibunuh oleh seorang budak bernama Washyi Alhabsyi atas perintah Hindun binti Utbah, istri petinggi Quraisy. Ia ingin membalas dendam kepada Hamzah yang dituding telah membunuh ayahnya dalam Perang Badar. Setelah berhasil membunuh Hamzah, pasukan kafir Quraisy mundur kembali ke Mekkah. Rasulullah SAW yang menyaksikan pamannya gugur tampak sedih.

Namun begitu, beliau kembali bangkit dan kembali menyemangati pasukannya dengan memerintahkan para sahabat yang gugur dimakamkan di lokasi mereka roboh. Rasulullah SAW beserta sahabat menyolatkan masing-masing syuhada. Sedangkan sayyidina Hamzah disholatkan sebanyak 70 kali dan dikebumikan dalam satu liang dengan Abdullah bin Jahsyi, sepupu Nabi Muhammad SAW yang terpisah dengan lokasi para syuhada lainnya.

Saking cintanya kepada para syuhada Uhud, Rasulullah SAW senantiasa berziarah ke Jabal Uhud hampir setiap tahun. Jejak itu diikuti para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat. Rasulullah SAW bersabda, “Mereka yang dimakamkan di Uhud tak memperoleh tempat lain kecuali ruhnya berada didalam burung hijau yang melintasi sungai Surgawi. Burung itu memakan makanan dari taman surga, dan tak pernah kehabisan makanan. Para syuhada itu berkata siapa yang akan menceritakan kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga.”

Karena sebab itulah, Allah Subhanahu Wata’alaberfirman, “Aku yang akan memberi kabar kepada mereka.” Dari situ kemudian turun ayat yang berbunyi, “Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu meninggal.” (Al Quran, SuratAli Imran ayat (3), ayat 169).

Peristiwa kekalahan kaum muslimdalam perang Uhud menyimpan hikmah yang luar biasa. Allah SWT dalam Al Quran Surat Al Anbiya, ayat 35 mengingatkan, bahwa “Sungguh kalian akan Kami uji dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah.” Semoga menjadi pelajaran bagi umat hingga akhir zaman di saat menghadapi pilihan antara kesetiaan pada ajaran dan kecintaan dunia. (Hayat Fakhrurrozi)

LEAVE A REPLY