Menelusuri Khasanah Islam di Pulau Bali

0
1544

sepuhSiapa yang tak mengenal keindahan dan kemasyhuran Pulau Bali. Pulau berjuluk Seribu Pura itu sarat akan tradisi dan budaya Hindu yang kental. Tak heran bila Bali pun disebut-sebut sebagai Pulau Dewata. Meski demikian, Bali juga menyimpan khasanah dan mozaik Islam. Hanya saja, seakan tenggelam dengan keriuhan dan pamor Bali sebagai destinasi wisata dunia nomer wahid di Indonesia.

Lalu, jejak-jejak peninggalan Islam seperti apa yang ada di Bali? Menurut catatan sejarah, Islam masuk ke Pulau Bali sejak abad ke-15. Dalam catatan sejarah disebutkan saat Dalem Ketut Ngelesir menjadi raja Gelgel pertama (1380—1460M) telah mengadakan kunjungan ke keraton Majapahit atas undangan Prabu Hayam Wuruk. Ketika pulang ke Bali raja diiringi 40 orang dari Majapahit, diantara mereka terdapat Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil. Konon, peran ulama dan saudagar muslim Bali pada saat itu memiliki peran penting di Kerajaan Gelgel di Klungkung Bali.

Kampung Islam Pulau Serangan

Jejak Islam di Bali berupa kampung Islam bermula di Pulau Serangan yang didirikan oleh seorang ulama asal Bugis bernama Syeikh Haji Mukmin di abad ke-17. Keberadaan kampung Islam di Pulau Serangan merupakan balas jasa pihak Kerajaan Pemecutan Badung atas bantuan ulama yang lebih dikenal dengan sebutan Puak Tua itu. Di kawasan itu terdapat masjid tertua yang didirikan Puak Tua bernama Masjid Asy-Syuhada.

Makam Sunan Mumbul

Sunan Mumbul adalah nama lain dari Raden Datuk Mas Pakel. Seorang putra mahkota Kerajaan Pejanggik, Mataram-Lombok yang berkuasa di abad ke-17. Keberadaan Sunan Mumbul bermula dari akibat serangan Kerajaan Karangasem Bali terhadap Kerajaan Pejanggik. Kemudian Sunan Mumbuldibawa ke Bali. Oleh Raja Karangasem, Mas Pakel dipercaya menjadi penasehat Istana.

Ia pun termasuk orang yang dipercaya untuk membangun Istana Taman Ujung, Karangasem. Sebuah tempat istirahat bagi keluarga Raja sekaligus menjadi tempat pengintaian terhadap kapal-kapal dari Bali Timur. Dan tak jauh dari kawasan Istana Taman Ujung, tepatnya di tepi pantai, terdapat Makam Sunan Mumbul.

Kemudian, jika di Pulau Jawa ada Walisongo, di Pulau Bali ada sebutan Walipitu (wali tujuh) atau nama lain dari Sab’atul Awliya yang berjasa dalam penyebaran Islam di Bali. Jejak peninggalan Walipitu berupa pemakaman tersebar di Denpasar, Karangasem, Tanah Lot dan beberapa tempat lainnya.  Ketujuh makam para wali itu hingga kini acapkali diziarahi kaum muslim dari penjuru nusantara.

Diantaranya adalah Makam Raden Mas Sepuh nama lain dari Pangeran Amangkuningrat di Pantai Seseh. Makam Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi di Bukit Bedugul. Untuk menuju ke kompleks makam ini, peziarah musti kuat lantaran letaknya berada di atas bukit yang lumayan tinggi di kawasan cagar alam Perhutani Kabupaten Tabanan.

Lalu ada Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid di Pantai Kusamba. Makam Habib Ali Zainal Abidin Al Idrus dan Syeikh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi atau dikenal dengan makam keramat kembar terletak di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Makam Syeich Abdul Qodir Muhammad di Karangrupit. Makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana.

Makam Raden Mas Sepuh di Pantai Seseh

Raden Mas Sepuh adalah nama lain dari Raden Amangkuningrat. Ia merupakan putra Raja Mengwi I yang beragama Hindu dan ibunya dari Blambangan Banyuwangi. Raden Mas Sepuh yang memiliki banyak karomah ini akhirnya meninggal dan dikebumikan di tepi Pantai Seseh, Mengwi, Tabanan, Bali.

Makam Habib Ali Abubakar Al Umar Al Hamid

Dialah satu-satunya ulama yang diangkat menjadi penerjemah kerajaan dan masuk dalam lingkungan Istana Gelgel, Klungkung oleh Raja Dalem I Dewa Agung Jambe. Makamnya terdapat di Desa Kusumba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Lokasi makam ini tak jauh dari selat yang menghubungkan Klungkung dengan pulau Nusa Penida. Selain dikeramatkan oleh kaum muslim, makam ini juga dikeramatkan penganut Hindu. Di depan makam dibangun patung seorang tokoh bersorban dan berjubah menunggang kuda. Kompleks pemakaman ini kerap ramai pengunjung saat gelaran haul Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al Hamid setiap pekan pertama di bulan Sya’ban.

Makam Syeikh Abdul Qodir Muhammad

Makam yang dikenal dengan sebutan Makam keramat Karang Rupit ini terletak di Banjar Dinas Labuhan Aji, Desa Temukus Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Syeikh Abdul Qodir Muhammad bernama asli The Kwan Lie pengembara asal Cina yang mendarat di Palembang lalu menuntut ilmu kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dan oleh Sunan Gunung Jati, ia diantar ke Pulau Bali untuk menyebarkan agama Islam, tepatnya di kawasan Buleleng.

Makam Habib Ali bin Umarbin Abu Bakar Bafaqih

Habib Ali Bafaqih lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, datang ke Bali pada tahun 1917. Tahun 1935, Habib Ali Bafaqih yang menuntut ilmu di Mekkah ini mendirikan Pondok Pesantren Syamsul Huda. Selain menguasai ilmu Al Quran, beliau yang wafat pada 1997 dalam usia 107 tahun ini dikenal sebagai pendekar yang tangguh. Makam beliau terletak di Kampung Ampel Loloan Barat, Kabupaten Jembrana.

Masjid Agung Ibnu Batutah

Selain komplek pemakaman para ulama penyebar agama Islam di Bali, ada satu masjid yang terletak kawasan bernama Puja Mandala di Nusa Dua, Badung yang kerap ramai dikunjungi wisatawan. Uniknya, selain Masjid Ibnu Batutah, di kawasan ini terdapat tempat ibadah Hindu, Budha, Kristen dan Katholik yang berdampingan.  Kawasan yang diresmikan 1997 ini dibangun sebagai wujud nyata toleransi umat beragama di Bali.

Masjid ini sengaja dibangun bagi umat muslim di wilayah Nusa Dua. Seiring berjalannya waktu, Masjid Agung Ibnu Batutah mulai dikenal wisatawan dari penjuru negeri. Bahkan setiap harinya, ratusan hingga ribuan wisatawan domestik dari berbagai pelosok Indonesia mengunjungi masjid seluas 3000 meter persegi ini.

Lantaran kerap disinggahi wisatawan muslim, Masjid Ibnu Batutah pun kini dijadikan sebagai pusat pendidikan, pemahaman, dan perpustakaan Al Quran terbesar di Bali.

Nah, Anda penasaran kalau Pulau Bali menyimpan jejak dakwah Islam yang masyhur? Saatnya Anda rencanakan perjalanan ke Bali tak sekadar untuk melancong di Pulau Dewata tapi sekaligus menelusuri jejak Islam di Pulau Seribu Pura itu. (Hayat Fakhrurrozi)