Jabal Uhud, Saksi Para Syuhada

0
1259

jabal-uhudAnas Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) memandang ke Jabal Uhud sambil bersabda, “Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang sangat mencintai kita, dan kita pun mencintainya.”

Jabal Uhud (Gunung Uhud), merupakan gunung batu berwarna kemerahan setinggi  1.050 meter di atas permukaan laut. Memang, gunung yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah utara Kota Madinah itu terpisah dari bukit-bukit lainnya di sekitarnya yang pada umumnya saling menyambung. Karena itu penduduk Madinah menamainya Jabal Uhud, artinya gunung yang menyendiri. Gunung yang memiliki keliling 19 kilometer ini termasuk gunung terbesar di Madinah.

Sejarah mencatat, di bukit tandus dan gersang inilah kesetiaan dan kegigihan kaum muslimin dipertaruhkan ketika harus menghadapi kaum musyrikin Quraisy Mekkah. Perang yang berkobar pada 15 Syawal 3 H, atau sekitar bulan Maret 625 itu kaum muslim harus menerima pil pahit dengan gugurnya 70 orang syuhada. Di antaranya adalah Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW dan Abdullah bin Jahsyi, sepupu Rasulullah SAW.

Di lembah Uhud itulah, para syuhada dimakamkan. Sebagai bukti kecintaan Rasulullah SAW kepada para syuhada perang Uhud, membuat beliau senantiasa menziarahi tempat ini setiap tahun. Kebiasaan itu diikuti oleh para sahabat sepeninggalnya Rasulullah SAW. Bahkan, dikisahkan bahwa Umar bin Khaththab dan Abubakar Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu juga selalu mengingatkan Rasulullah dalam setiap perjalanannya kala mendekati Jabal Uhud.

Karenanya, keberadaan Jabal Uhud tak pernah terlewatkan untuk diziarahi oleh jamaah haji maupun umrah. Para jamaah disunnahkan ketika berziarah, untuk memberi salam kepada para syuhada Uhud serta mendoakannya. Bahkan menurut riwayat, ada yang menganjurkan sebaiknya berziarah ke Jabal Uhud pada hari Kamis dan Jumat, sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya.

Sebelum dibangun jalan baru yang menghubungkan Kota Madinah dan Mekkah, Jabal Uhud senantiasa dilewati para jamaah baik dari Mekkah maupun sebaliknya. Karena memang, letaknya di pinggir jalan raya yang menjadi akses kedua kota tersebut. Namun, sejak 1984, dengan adanya jalan baru, perjalanan jamaah haji maupun umrah baik dari Mekkah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah tidak lagi melintasi kawasan tersebut.

Di kawasan Jabal Uhud terdapat kompleks pemakaman yang sangat sederhana tak ada tanda-tanda khusus sebagaimana layaknya kuburan. Peziarah hanya bisa melihat ke dalam areal pemakaman itu lewat celah-celah pagar jeruji besi setinggi 1,75 meter yang dilapisi fiber glass. Sayangnya, baik tembok maupun fiber glass penutup pagar besi itu tampak kotor dengan banyaknya coretan-coretan tangan tak bertanggungjawab. Jika dilihat dari bahasanya, tak sedikit jamaah asal Indonesia yang menorehkan di lokasi tersebut. Entah apa maksud dan tujuan dari aksi vandalisme itu.

Di area pemakaman itulah para syuhada dikebumikan, termasuk paman Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib yang menyatu dengan Abdullah bin Jahsyi, sepupu Rasulullah SAW. Sementara 68 orang syuhada lainnya dimakamkan terpisah dengan kedua sahabat tersebut. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan agar meraka yang gugur dikubur di tempat para syuhada itu roboh. Sehingga ada satu lubang liang kubur berisi beberapa syuhada.

Di depan kompleks pemakaman syuhada Uhud, terdapat pula Jabal Rumat (gunung Rumat) yang artinya gunung pemanah. Sebuah bukit setinggi 20 meter yang digunakan sebagai tempat 50 orang pasukan pemanah kaum muslim dalam perang Uhud. Lokasi Jabal Rumat atau disebut juga dengan Jabal Ainain berjarak satu kilometer dari Jabal Uhud yang ada di seberangnya. Selain kompleks makam para syuhada dan Jabal Rumat –yang kerap dijadikan tempat jamaah mengabadikan foto— di tempat bersejarah ini terdapat Masjid Al-Fasih.

Masjid Al-Fasih atau Masjid Uhud adalah sebuah masjid kecil yang menempel di Jabal Uhud, di bawah gua. Masjid ini pernah digunakan Rasulullah SAW untuk menunaikan sholat Dzuhur setelah pertempuran Uhud usai.Bangunan aslinya telah dihancurkan dan tinggal beberapa bagian dari dinding timur, barat dan selatan saja, serta mihrab mujawwaf yang masih tampak. Bangunan itu kini dikelilingi dengan pagar teralis besi untuk menjaga kelestarianya.

Di pintu utama kompleks pemakaman, pemerintah Arab Saudi memasang papan pengumuman dalam berbagai bahasa. Salah satunya mengingatkan kepada jamaah yang berziarah bahwa mengajukan permohonan, meminta agar dijauhkan dari musibah yang menimpa, meminta syafaat, dan meminta keinginan kepada mayat adalah perbuatan syirik besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.

Ada juga larangan mengusap-usap kuburan karena merupakan amalan bid’ah dan dapat membuat seseorang mengarah kepada kesyirikan. Dilarang pula mencari berkah dengan mendaki gunung, begitu pula mengambil tanah atau bebatuan dari tempat tersebut.

Selain berziarah sebagai tujuan utamanya, untuk mendoakan para syuhada dan mengingatkan kepada kehidupan akhirat, jamaah juga bisa membeli buah tangah. Di lokasi ini terdapat banyak pedagang yang menjajakan oleh-oleh atau cendera mata. (Hayat Fakhrurrozi)

LEAVE A REPLY