Mozaik Kejayaan Banten Lama

0
1307

HAJIUMRAHNEWS – Menjelajahi kawasan Banten Lama kita seakan menyelami kehidupan tempo dulu masa kejayaan kesultanan Banten. Di kawasan ini, banyak terserak situs-situs bersejarah yang cukup menarik dan layak kita kunjungi.

Situs-situs tersebut antara lain Istana Keraton Surosowan, Istana Keraton Kaibon, Masjid Agung Banten, Museum Kerajaan Banten, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, dan Vihara Avalokitesvara.

Transportasi menuju kawasan Banten Lama juga cukup mudah. Perjalanan dari Jakarta bisa ditempuh sekitar 2 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi. Sesampai di lokasi, jarak antar situs-situs tersebut juga tidak terlalu jauh, sehingga semuanya bisa dikunjungi dalam sehari.

Istana Keraton Surosowan

banten lama_istana surosowanIstana Keraton Surosowan merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Banten sekaligus kediaman para sultan. Istana seluas 3 hektare ini dibangun pada tahun 1526 oleh Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon . Putra Maulana Hasanuddin, Sultan Maulana Yusuf, memperkuat istana dengan benteng yang terbuat dari batu karang dan batu merah. Di sekeliling benteng dibangun parit-parit yang konon dulunya bisa dilayari perahu-perahu kecil hingga sampai ke laut Jawa.

Selain bangunan istana yang kini sudah rata dengan tanah, di bagian dalam keraton terdapat kolam pemandian yang diberi nama Roro Denok. Bangunan fisik kolam ini masih dapat terlihat jelas sampai sekarang. Di bagian tengah kolam terdapat bangunan persegi empat yang dinamakan Bale Kambang yang saat ini tinggal pondasi.

Air untuk pemandian tersebut berasal dari Danau Tasik Ardi yang lokasinya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari istana. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa benteng istana diperkuat dan dipojok-pojoknya dibuat bangunan setengah lingkaran sebagai pengintai dan lubang untuk menembak musuh.

Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. Terakhir, keraton dihancurkan oleh penjajah Belanda pimpinan Daendels pada tahun 1808. Peperangan itu timbul karena Kesultanan Banten menolak mengerahkan rakyatnya untuk kerja paksa dalam pembuatan jalan Anyer-Panarukan. Yang tampak dari kompleks keraton Surowosan sekarang ini hanya tembok benteng dengan tinggi sekitar 2 meter dan sisa-sisa pondasi bangunan istana.

Istana Keraton Kaibon

Berbeda dengan Keraton Surosowan yang menjadi pusat pemerintahan, Keraton Kaibon yang dibangun pada 1815 dijadikan sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah. Ratu Aisyah adalah ibu dari Sultan Banten ke-21, yaitu Sultan Maulana Rafiudin. Keraton Kaibon dibangun menghadap barat dengan kanal dibagian depannya. Kanal ini berfungsi sebagai media transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan yang letaknya berada di bagian utara. Keraton yang berdiri di tanah seluas mencapai 4 hektare ini dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur. Walaupun telah hancur, beberapa reruntuhan di keraton ini masih terlihat pondasi dan pilar-pilar yang utuh. Tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda.

Masjid Agung Banten

masjid-agung-bantenMasjid Agung Banten ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Bangunan masjid berbatasan dengan perkampungan si sebelah utara, barat, dan selatan, alun-alun di sebelah timur, dan Keraton Surosowan di sebelah tenggara.

Masjid Agung Banten dirancang oleh 3 arsitek dari latar belakang yang berbeda. Yang pertama adalah Raden Sepat, arsitek Majapahit yang telah berjasa merancang Masjid Agung Demak, Masjid Agung Ciptarasa Cirebon dan Masjid Agung Banten. Kedua adalah arsitek China bernama Tjek Ban Tjut. yang memberikan pengaruh kuat pada bentuk atap masjid bersusun lima mirip l pagoda China. Karena jasanya dalam membangun masjid itu Cek Ban Su memperoleh gelar Pangeran Adiguna.

Lalu arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel, arsitek Belanda yang kabur dari Batavia menuju Banten di masa Pemerintahan Sultan Haji tahun 1620. Dalam statusnya sebagai mualaf, dia merancang menara masjid serta bangunan tiyamah di komplek masjid agung Banten. Karena jasanya tersebut, Cardeel kemudian mendapat gelar Pangeran Wiraguna.

Luas kompleks bangunan masjid inimencapai 1,2 hektare. Di serambi kiri masjid ini terdapat kompleks makam sultan-sultan Banten dan keluarganya antara lain Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar, Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin.

Danau Tasikardi

danau tasikardiTasikardi adalah danau buatan yang dulunya dibangun untuk tempat rekreasi sultan dan keluarganya, pemandian para putri sultan, serta berfungsi sebagai penampungan air untuk memasok kebutuhan air bagi keluarga keraton dan masyarakat sekitarnya. Air di danau seluas 5 hektare ini berasal dari dari Sungai Cibanten.

Sebelum disalurkan ke istana, air dari danau ini terlebih dulu disaring dalam tiga tahap. Ada tiga bangunan yang berfungsi untuk menyaring air atau pengindelan, yakni pengindelan abang (penyaringan merah), pengindelan putih, dan terakhir pengindelan emas. Ketiga bangunan tersebut berada dalam satu garis lurus, menghubungkan pemandian Tasikardi dengan  pemandian yang ada dalam Istana Surosowan.Saat ini, Danau Tasikardi masih terawat dengan baik dan menjadi tempat wisata.

Benteng Speelwijk

Lokasi Benteng Speelwijk tidak jauh dari Istana Keraton Surosowan. Benteng ini dibangun oleh VOC sekitar tahun 1683 sekaligus menandai era kejatuhan Kesultanan Banten. Dahulu, Benteng Speelwijk digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda, sekaligus berfungsi sebagai penyimpanan meriam-meriam dan alat pertahanan VOC.

Vihara Avalokitesvara

banten lama-viharaVihara ini merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia. Keberadaan Vihara ini diyakini merupakan bukti bahwa pada saat itu penganut agama yang berbeda dapat hidup berdampingan dengan damai tanpa konflik .

Kondisi di dalam Vihara ini sejuk, karena banyak pepohonan rindang dan terdapat tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat. Selasar koridor Vihara yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya ini terdapat relief cerita hikayat Ular Putih, yang dilukis dengan berwarna-warni sebagai elemen estetis. (nurdian)