Kyai Deden Ghazali, Istiqamah Membina Kaum Muda

0
926
Kyai Deden Ghazali, pembimbing ibadah haji dan umrah
Kyai Deden Ghazali, pembimbing ibadah haji dan umrah

HAJIUMRAHNEWS -Usia muda adalah masa emas. Karenanya jangan sampai terlena atau malah melewatkannya begitu saja. Manfaatkan dengan baik masa itu untuk bekal hidup di kemudian hari. Jangan sampai kecewa dan menyesal di hari tua kelak, lantaran tidak bisa memanfaatkan kesempatan di waktu muda.

Pesan itulah yang kerap disampaikan KH Deden Ghazali kepada santri dan kaum muda yang menjadi binaannya. Selain mengasuh pondok pesantren, kyai muda kelahiran Bandung, 14 Maret 1973 ini tak pernah lelah membimbing generasi muda dari satu pengajian ke pengajian lainnya di kawasan Bandung dan sekitarnya. Malah, kesibukannya kini bertambah padat setelah dipercaya sebagai pembimbing ibadah bagi jamaah haji dan umrah sejak 2006 silam.

“Dengan niatan ibadah, saya mulainolberjuang menegakkan kalimat tauhid dan membina anak-anak muda agar tetap berjalan dalam naungan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Termasuk ketika saya diamanahi jamaah untuk membimbing mereka saat ibadah haji maupun umrah,” ujar Kyai Deden, sapaan akrabnya.

Ia selalu mengingatkan kepada santri dan jamaah bahwa kebahagiaan itu milik Allah dan sekaligus pemberi kebahagiaan yang sebenarnya. Sebab, tidak ada ajaran yang paling baik dan benar selain ajaran Allah dan Rasul-Nya yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits.

Oleh karena itu, ia menyarankan kepada siapapun yang ingin merengkuh kebahagiaan, maka dekati dan pelajari agama Islam dengan baik dan benar. “Yakinlah, orang yang selalu mendekati Allah, maka Allah pun akan lebih dekat. Sebaliknya orang yang jauh dari Allah dan Rasul-Nya, maka Allah pun akan menjauh,” katanya.

Lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menjadi panutan masyarakat mendorong Deden lebih memilih pendidikan pesantren. Sebagai anak pedagang, sejak kecil ia sudah terbiasa melibatkan diri dalam perniagaan yang dilakoni kedua orangtuanya. Dan pada tahun 1988, selepas SMP, ia melanjutkan pendidikan ke pesantren.

Di tahun 2000, ia kembali ke kampung halamannya dan mulai berdakwah sekaligus mengamalkan ilmu agama yang diperoleh selama di pesantren. Hingga kini, Kyai berperawakan tegap ini terus istikomah membimbing kaum muda, untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya.

“Jadi, kalau kalian mau mencari kebahagiaan, maka dekatilah Allah, karena sejatinya, Allah adalah Dzat pemberi kebahagiaan,” katanya kembali mengingatkan jamaah sebelum menutup taushiyahnya dalam manasik umrah di Soreang, Bandung beberapa waktu lalu. (oji)

LEAVE A REPLY