Menapaki Jejak Islam di Bumi Sriwijaya

0
1201

 

lokasi-masjid-cheng-ho-palembangHAJIUMRAHNEWS – Sejak berabad lampau, bumi Sriwijaya (Sumatera Selatan) memang begitu ternama di penjuru Nusantara bahkan di mata dunia. Lantaran di negeri ini, pernah berdiri sebuah kerajaan maritim termasyur bernama Kerajaan Sriwijaya. Dan tak kalah terkenalnya, kerajaan Islam, di bawah dinasti Sultan Mahmud Badaruddin. Tak heran bila Sumatera Selatan selain dikenal dengan nama bumi Sriwijaya, juga Kesultanan Palembang.

Bicara bumi Sriwijaya memang tak ada habisnya. Tidak hanya seputar kebesaran nama Sungai Musi plus Jembatan Ampera-nya sebagai destinasi yang dimiliki Palembang, Sumatera Selatan.  Sejarah mencatat, memasuki abad ke-15, di kota Palembang berdirilah Kesultanan Palembang di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin yang termasyur. Termasuk Benteng Kuto Besak, peninggalan kesultanan Palembang Darussalam, Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin berikut komplek pemakaman Sultan Palembang dan Masjid Cheng Ho.

Kini, jejak-jejak peninggalan kesultanan itu menjadi bagian dari tujuan wisata muslim yang kian diminati. Meski Provinsi Sumatera Selatan tak masuk dalam daftar kawasan wisata syariah. Selain itu, di bumi Wong Kito ini, pewisata juga bisa menikmati Jembatan Ampera berikut Sungai Musi yang dibelahnya.

Benteng Kuto Besak

Inilah benteng peninggalan keraton Kesultanan Palembang di abad XVIII. Pembangunannya diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) dan baru diselesaikan oleh Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Di bawah tampuk kepemimpinan Sultan Mahmud Bahauddin negeri Palembang menjadi pusat sastra, agama di Nusantara. Termasuk memindahkan pusat pemerintahan dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak pada tahun 1797. Oleh Belanda, Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Benteng ini yang dibangun pada tahun 1780 diarsiteki oleh seorang keturunan Tionghoa. Konon, benteng ini menggunakan semen perekat bata berupa batu kapur yang diambil dari pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Dan waktu pembangunannya membutuhkan kurang lebih 17 tahun. Benteng ini menghadap langsung ke Sungai Musi, sebagai urat nadi transportasi kala itu. Kini, Benteng Kuto Besak dijadikan sebagai Markas Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I

Masjid yang didirikan Sultan Mahmud Badaruddin I pada abad ke-18 ini merupakan masjid paling besar di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Memadukan arsitektur Indonesia, China dan Eropa bisa dilihat dari pintu masuk yang besar dan tinggi diadopsi dari gaya Eropa. Sedangkan arsitektur China dilihat dari atap bangunan utama yang mirip kelenteng. Hanya saja, bentuk masjid yang sekarang merupakan hasil renovasi tahun 2000 dan selesai 2003.

Masjid ini terletak di kawasan 19 Ilir, sebuah Kampung Asli Palembang dan Arab yang telah lama didiami. Di dekat Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I ini Anda dapat menemukan dua pasar yang menjual berbagai macam souvenir, kain tenun, kerajinan kayu, dan makanan.

Masjid Cheng Ho

Masjid dengan nuansa khas budaya Tionghoa menjadi salah satu tujuan wisata favorit wisatawan saat bertandang ke Palembang. Malah, masjid berarsitektur China ini kerap dikunjungi wisatawan asal bukan saja dari Palembang, melainkan juga datang dari Malaysia, Taiwan, Jakarta, Singapura, Medan, dan lain-lain.

Masjid yang terletak di kawasan Jakabaring Palembang ini dibangun atas prakarsa Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel di mulai pada tahun 2003 dan baru resmi digunakan pada 2008. Penggunaan nama Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho atau Masjid Cheng Ho tak lepas dari kehadiran Laksamana Cheng Ho, seorang kasim muslim kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok di bumi Sriwijaya. Masjid yang berdiri di lahan seluas 5.000 meter persegi ini mampu menampung 600 jamaah.

Komplek Makam Kesultanan Palembang

Komplek makam Sabo King-king merupakan pemakaman para raja awal kesultanan Palembang. Di komplek yang telah berusia lebih dari 500 tahun, terdapat makam Pasaeran Sido Ing Kenayan dan istrinya Ratu Sihuhun, Sido Ing Pasaeran atau Jamaludin Mangkurat I (1630-1652), serta pangeran Kilir Timur II, Palembang. Tak jauh dari komplek pemakaman tersebut, bisa ditemui makam Ki Gede Ing Suro, di lorong Haji Umar, di kawasan 1 Ilir Palembang.

Jembatan Ampera dan Sungai Musi

Jembatan Ampera yang ada di Kota Palembang yang kian melegenda. Ide pembangunan jembatan yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir –yang dibelah Sungai Musi ini— sebetulnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Hingga pada akhirnya pada tahun 1962, Presiden Soekarno merealisasikan pembangunan jembatan yang dananya berasal dari rampasan perang Jepang. Untuk mewujudkannya, Soekarno pun menggunakan tenaga ahli dari negeri Sakura.

Mulanya, jembatan yang resmikan pada 1965 ini dinamai Jembatan Bung Karno. Kala itu, jembatan ini menjadi jembatan terpanjang di kawasan Asia Tenggara. Setahun kemudian, seiring bergejolaknya politik, nama jembatan diganti dengan nama Jembatan Ampera (Amanat penderitaan rakyat). Di jembatan ini, traveler bisa menyaksikan kemegahan kontruksi jembatan, apalagi di saat malam hari. Sekitar 50 meter dari Jembatan Ampera, terdapat sebuah pasar yang merupakan pusat souvenir dan makanan.

Bukan hanya kemegahan Jembatan Ampera, di Sungai Musi yang membelah kota Palembang ini banyak terdapat obyek wisata seperti restoran terapung, Kampung Arab, dan Benteng Kuto Besak. Sungai terpanjang di Sumatera dengan panjang mencapai 750 kilometer ini dulunya merupakan sarana transportasi utama di Palembang.  (Firman)