KH Gus Arifin : Tradisikan Membaca Kitab Gundul

0
848

Gus Arifin (dok.jumrah)HAJIUMRAHNEWS – Terlahir dan dibesarkan di keluarga nahdliyin, membuatnya tetap menyukai tradisi pesantren. Meski tidak resmi nyantri di sebuah pondok pesantren, tapi hanya jadi ‘santri kalong’ kepiawaiannya membaca kitab klasik tak diragukan lagi. Hingga kini, ia tetap mentradisikan membaca kitab ‘gundul’ di setiap pengajian yang digelarnya.

Itulah Agus Arifin atau lebih dikenal dengan Gus Arifin. Ustadz yang kerap menjadikan kitab klasik sebagai rujukan materi-materi ceramahnya. Bahkan, tradisi membaca kitab gundul itu selalu dibaca dan dikupas hingga tamat. Salah satu kitab yang telah dikhatamkan di majelis taklim yang dipimpinnya adalah kitab Bulughul Marom.

“Saya ingin mentradisikan membaca kitab gundul, oleh karenanya dalam setiap pengajian saya mentargetkan untuk bisa mengkhatamkan satu kitab. Salah satu kitab yang telah kami khatamkan adalah Bulughul Marom dan Subulussalam,” kata ustadz pembimbing ibadah haji dan umrah di beberapa biro travel ini.

Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), pria kelahiran, Mojokerto 11 Agustus 1969 ini diharapkan oleh orang tuanya kelak bisa mengabdi di Kementerian Agama. Karena itu, Muntoya bin Abu Tamam, sang ayah memasukkannya ke Madrasah Ibtidayah di sore hari selepas menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD). Tak hanya berhenti sampai di situ, Gus Arifin kecil pun musti mengaji pada malam hari di pondok pesantren. Malah, sang ayah menginginkan selepas SD, ia harus masuk ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat SMP, lalu ke Madrasah Aliyah (MA) dan kuliah ke perguruan tinggi Islam, IAIN (Institut Agama Islam Negeri).

Rupanya, selepas MTs, Gus Arifin lebih memilih masuk ke sekolah umum, SMA. Pun ketika lulus, ia malah melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Di kampus ini, ia memilih jurusan Teknik Kimia hingga meraih gelar Insinyur Teknik. Dan sejak tahun 1994, Gus Arifin tercatat sebagai pegawai PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Sekarang di perusahaan BUMN ini, ia menjabat sebagai asisten vice pesident bidang risk management.

Jika pagi hingga sore sibuk bekerja di kantor, maka selepas jam kantor insinyur teknik kimia yang fasih berbahasa Arab itu aktif di berbagai majelis taklim. Bahkan ketika tahun 2003, sekembalinya dari penugasan di Sumatera, Gus Arif mendirikan majelis ta’lim dengan nama Majelis Ta’lim Keliling Gus Arifin.

Tak hanya aktif berdakwah, ayah lima anak ini tercatat sebagai penulis produktif. Setidaknya sudah ada 26 judul buku yang telah ditulisnya. Di antaranya Peta Perjalanan Haji, Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah, Doa dan Dzikir Ibadah Haji dan Umrah, ada juga buku Menikah untuk Bahagia serta masih banyak lagi. (Mi’roji)

LEAVE A REPLY